Sunday, 29 May 2022

PENYEBAB ANAK KECEWA DENGAN SIKAP & PERILAKU ORANGTUA

 Penyebab Anak Kecewa dengan Sikap & Perilaku Orangtua


Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman


Tanggal Pembuatan: 30 Mei 2022 11.45 WIB
Tanggal Edit: 30 Mei 2022 12.00 WIB


- Orangtua lebih menyukai menghujat serta menghina anaknya bahwa anak
  tersebut tidak memiliki bakat, minat, serta skill
- Orangtua sering membandingkan anak kandung dengan orang lain, seperti
  orangtua membandingkan anak dengan tukang jualan keliling di depan komplek
  rumahnya, orangtua membandingkan anak dengan anak dari tetangga mengenai
  tempat tinggal, dan lain sebagainya
- Anak tidak mendapatkan dukungan lebih dari orangtuanya mengenai pekerjaan
  yang diinginkan oleh anaknya
- Orangtua selalu menuntut anaknya untuk menyelesaikan pendidikan dengan
  mewajibkan anaknya menempuh perkuliahan ketimbang membebaskan anaknya
  bekerja dengan teman satu frekuensi atau bekerja sendiri
- Orangtua tidak belajar dari pengalaman orang lain mengenai kesuksesan yang
  mereka capai, seperti Kiesha Alvaro, Rassya Hdayah, Rey Bong, Zayyan Sakha,
  Daffa Syahputra, Noel Londok, Farras Fatik, Ali Fikry Assegaf, dan artis-artis
  generasi penerus bangsa lainnya
- Orangtua tidak bisa meluangkan waktunya untuk mencarikan pekerjaan anaknya
  yang sesuai dengan bakat, minat, serta skill
- Orangtua selalu mencari kesalahan anaknya
- Orangtua telah melanggar janji-janji yang pernah orangtua ucapkan kepada
  anaknya
- Orangtua memaksa anaknya menjadi anak introvert ketimbang anak ekstrovert
  atau anak ambivert
- Orangtua memaksa anaknya tidak memiliki banyak teman

Note:
Informasi ini saya dapatkan dari hasil pengalaman serta analisa saya selama saya tinggal bersama orangtua
 JADIKAN KONTEN BLOG DIARY IRFAN PSIKOLOGI & KESEHATAN MENTAL ANAK & ORANG YANG BERSANGKUTAN SEBAGAI PEMBELAJARAN KE DEPAN. JANGAN SAMPAI ORANGTUA MENYESAL DI KEMUDIAN HARI KARENA ORANGTUA SERING BERSIKAP & BERPERILAKU SEPERTI ITU KE ANAK KARENA ANAK ADALAH GENERASI PENERUS BANGSA




JANGAN SALAHKAN ANAKNYA APABILA ANAK MELAKUKAN SEPERTI ITU KE ORANGTUA. ANAK TIDAK SEGAN-SEGAN UNTUK MELAKUKAN PERLAWANAN KE ORANGTUA DENGAN SEGALA MACAM CARA, SEPERTI MEMBERONTAK, MEMARAHI, MEMBERIKAN KRITIKAN PEDAS KE ORANGTUA, DAN LAIN SEBAGAINYA, KARENA ANAK MENCERMINKAN SIKAP & PERILAKU ORANGTUA

Wednesday, 18 May 2022

ALASAN & AKIBAT ORANGTUA TIDAK MENDIDIK ANAKNYA DENGAN BAIK

Alasan & Akibat Orangtua Tidak Mendidik Anaknya dengan Baik


Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman


Tanggal Pembuatan: 18 Mei 2022 21.48 WIB


Alasan Orangtua Tidak Mendidik Anaknya dengan Baik
- Orangtua memiliki sifat egois yang tinggi ke anaknya
- Orangtua ingin menutupi kesalahan yang orangtua lakukan ke anak dengan membuat
  kebohongan ke anaknya dan membuat janji-janji palsu ke anaknya dengan dalih supaya
  anaknya tidak mengingat kembali kesalahan yang sudah orangtua lakukan ke anak
- Orangtua tidak memiliki rasa empati yang tinggi ke anak sehingga rencana dan masa depan
  anaknya menjadi tidak jelas/ berantakan
- Orangtua lebih menyukai menghujat anaknya ketimbang mendengarkan kritikan dari anaknya
- Orangtua lebih menyukai membandingkan anak kandung dengan anak orang lain, baik itu
  anak dari saudara sendiri maupun anak dari teman sendiri, ketimbang mencari solusi yang tepat
  untuk anaknya
- Orangtua ingin melihat anaknya menderita sehingga anak tidak berdaya di hadapan kedua
  orangtuanya
- Orangtua berusaha mengancam anaknya dengan segala macam cara, seperti orangtua
  mengancam anaknya dengan ikut bersama keluarga inti ke suatu tempat dengan dalih supaya
  kamu tidak merasakan bosan di rumah, orangtua mengancam anaknya dengan menyuruh
  anaknya untuk memutus pertemanan dengan dalih supaya anaknya tidak mudah terpengaruh
  dengan sikap dan perilaku teman-teman satu frekuensi, dan lain sebagainya

Akibat Orangtua Tidak Mendidik Anaknya dengan Baik
- Anak tidak akan mudah percaya dengan ucapan orangtua meskipun perkataan
  orangtua benar
- Anak menjadi sasaran korban bullying, baik itu menjadi korban bullying di sekolah, media
  sosial maupun keluarga inti sendiri
- Anak akan mengingat memori-memori buruk ketika orangtua membuat kekerasan, baik itu
  kekerasan fisik maupun kekerasan verbal, ke anaknya serta orangtua membicarakan keburukan
  teman anaknya ke keluarga temannya
- Orangtua akan mengatur anaknya dengan segala macam cara, seperti orangtua melarang
  anaknya bekerja dengan teman-teman satu frekuensi, orangtua melarang anaknya memiliki
  teman satu frekuensi, orangtua memaksa anaknya menempuh perkuliahan dengan dalih
  orangtua ingin membuat anaknya bangga dengan gelar sarjana serta ijazah yang ia capai,
  dan lain sebagainya
- Anak berusaha mencari teman yang cocok untuk diajak mengobrol (baca: mencari teman
  satu frekuensi) ketimbang memaksakan anaknya mengobrol dengan orangtua
- Anak mudah memiliki perasaan sakit hati ke orangtuanya dan anak pun memiliki perasaan
  tidak enak ke orang lain ketika anaknya sedang berkunjung ke rumah teman yang belum pernah
  dikunjungi atau anaknya yang mengobrol dengan nomor yang belum dikenal di media sosial,
  baik itu Instagram, Whatsapp maupun Tiktok
- Anak akan memilih kucing sebagai alternatif pertemanan dibandingkan berteman dengan
  teman seumuran
- Masa depan anak menjadi hancur karena perlakuan orangtua yang bersikap dan berperilaku
  semena-mena ke anak
- Anak akan berusaha merahasiakan teman-teman anaknya, mulai dari nama teman anaknya,
  punya teman berapa, dan tinggal di mana teman anaknya tersebut, apabila orangtua bersikap
  dan berperilaku seperti itu ke anak, seperti orangtua sering membandingkan anak dengan
  teman anaknya, orangtua sering menghujat anaknya karena teman anaknya sudah sukses
  dengan menempuh perkuliahan, dan lain sebagainya
- Orangtua akan mencari kesalahan-kesalahan anaknya apabila anak tersebut tidak menuruti
  kedua orangtua
- Kehidupan anak menjadi tertekan akibat ulah orangtua selalu menyalahkan anaknya ketika
  anak tersebut tidak membuat kesalahan satu pun



#RIPKeadilan

________________

INGAT! ANAK MENCERMINKAN SIKAP & PERILAKU ORANGTUA. ANAK AKAN MENIRU SIKAP & PERILAKU ORANGTUANYA APABILA ORANGTUA MELAKUKAN SEPERTI ITU KE ANAKNYA. JANGAN SALAHKAN ANAKNYA APABILA ANAKNYA MELAKUKAN PERLAWANAN KE ORANGTUA DENGAN CARA MEMBERONTAK, MEMARAHI, MEMBERIKAN KRITIKAN PEDAS KE ORANGTUA, DAN LAIN SEBAGAINYA. 

Saturday, 14 May 2022

PENYEBAB ORANGTUA TIDAK MENGIZINKAN ANAKNYA KERJA & ALASAN ORANGTUA MENGIZINKAN ANAKNYA BEKERJA, BAIK ITU BEKERJA SEJAK USIA DINI, BEKERJA SEJAK SD MAUPUN BEKERJA SEJAK LULUS DARI SMA

  Penyebab Orangtua Tidak Mengizinkan Anaknya Bekerja & Alasan Orangtua Mengizinkan Anaknya Bekerja, baik itu Bekerja Sejak Usia Dini, Bekerja sejak SD maupun Bekerja sejak Lulus dari SMA


Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman


Tanggal Pembuatan: 14 Mei 2022 14.45 WIB
Tanggal Publish Ulang: 14 Mei 2022 19.22 WIB


Sumber Konten Blog Berasal: Diary Irfan Motivator & Diary Irfan Pusat


 Penyebab Orangtua Tidak Mengizinkan Anaknya Bekerja,
baik itu Bekerja Sejak Usia Dini, Bekerja sejak SD maupun
Bekerja sejak Lulus dari SMA
- Orangtua berpikir bahwa anak tidak memiliki ilmu banyak sehingga orangtua
  memaksa anaknya untuk menempuh perkuliahan demi mendapatkan gelar
  sarjana
- Pemikiran orangtua tidak terbuka (baca: mainnya kurang jauh) sehingga
  orangtua mewajibkan anaknya menempuh perkuliahan dengan dalih
  mendapatkan gelar sarjana dan mendapatkan ijazah (baca: terlalu fanatik
  dengan pendidikan)
- Orangtua terlalu egois ke anak
- Orangtua tidak belajar dari pengalaman artis-artis generasi penerus bangsa yang
  sukses sejak usia dini, seperti Ali Fikry Assegaf, Zayyan Sakha, Rayensyah
  Rassya Hidayah, Naufal Ho, Nasar Anuz, Farras Fatik, Aqeela Calista, dan
  artis-artis generasi penerus bangsa lainnya
- Orangtua sering meremehkan bakat, minat, serta skill anaknya sehingga mental
  anak dalam mengembangkan bakat, minat, serta skill menurun
- Orangtua tidak mendukung anaknya dalam mengembangkan bakat, minat, serta
  skill dan orangtua akan memanfaatkan kesempatan dengan mencari kesalahan
  anaknya dengan dalih anaknya terlalu malas-malasan dan tidak serius dalam
  mengembangkan bakat, minat, serta skill
- Orangtua hanya ingin melihat anaknya sukses dengan mewajibkan anaknya
  menempuh perkuliahan tanpa membebaskan anaknya memilih mau menempuh
  perkuliahan terlebih dahulu setelah itu bekerja atau langsung bekerja tanpa
  menempuh perkuliahan terlebih dahulu
- Orangtua tidak memikirkan bahwa jumlah korban PHK di suatu perusahaan serta
  jumlah penggangguran di Indonesia makin meningkat. Hal tersebut disebabkan
  oleh tidak pedulinya para orangtua yang tidak mengizinkan anaknya bekerja
  dengan dalih anak tersebut tidak memiliki ilmu lebih serta anak tersebut dinilai
  malas-malasan sehingga orangtua mewajibkan anaknya menempuh perkuliahan
- Orangtua sering membandingkan anak yang memiliki ijazah dengan orang yang
  hanya lulus dari bangku SMA
- Orangtua sering menghujat orang yang hanya lulus dari bangku SMA dengan
  sebutan "orang yang hanya lulus dari bangku SMA (hanya) menerima pekerjaan di
  bidang OB (Office Boy)/ Cleaning Service di suatu perusahaan" atau "orang yang
  memiliki penghasilan rendah yang membuat orang tersebut bekerja demi
  membantu kedua orangtuanya yang jatuh miskin atau melawan dari penyakit yang
  orangtua derita" 


Alasan Orangtua Mengizinkan Anaknya Bekerja,
 baik itu Bekerja Sejak Usia Dini, Bekerja sejak SD maupun
Bekerja sejak Lulus dari SMA
- Orangtua ingin anaknya hidup mandiri dan tidak terlalu bergantung dengan
  orangtua
- Orangtua ingin anaknya belajar mengenai kerasnya masuk dunia kerja
  sejak usia dini atau sejak lulus dari SMA
- Anak memiliki niat baik ke orangtua mengenai rencana orangtua yang belum
  tercapai atau anak memiliki perencanaan yang belum tercapai, seperti
  memberangkatkan orangtua atau keluarga inti umroh, mengajak keluarga inti
  ke luar negeri, memberikan paket makanan ke orang-orang yang tidak mampu,
  dan lain sebagainya
- Orangtua ingin anaknya mencari teman semuruan atau teman satu frekuensi
  supaya anak bisa menemukan chemistry antara anak dengan teman seumuran
  atau teman satu frekuensi
- Orangtua ingin anaknya sukses dengan bekerja sambil sekolah
- Orangtua ingin anaknya belajar dari pengalaman orang-orang yang meraih
  kesuksesan sejak usia dini, seperti Nasar Anuz yang bermain di film
  Pengabdi Setan 1 & 2, sinetron Kun Anta 1-3, dan sinetron Pulung, Sinyo SR
  yang bermain di film Wonderful Life, sinetron Kun Anta 1-3, sinetron
  Jagoan Bola Go.... Go... Go..., sinetron Bola Koki, Rayensyah Rassya Hidayah
  yang bermain di film Habibie & Ainun 3, sinetron Kun Anta season 1, sinetron
  Dari Jendela SMP, dan film DJS The Movie: Biarkan Aku Menari, dan
  orang-orang yang meraih kesuksesan lainnya
- Anak menyadari bahwa mencari pekerjaan itu sangat sulit dan anak belajar dari
  pengalaman perusahaan/ toko swalayan yang bangkrut akibat para karyawan
  di-PHK atau perusahaan/ toko swalayan tersebut kalah bersaing dengan
  perusahaan/ toko swalayan lain, seperti Giant toko swalayan, Aladdin Depok
  Fantasi, perusahaan baju Centro, Bank Bukopin yang kini berganti nama menjadi
  Bank Korea Bukopin, dan perusahaan/ toko swalayan lainnya
- Anak menyadari bahwa membuka lapangan kerja di Indonesia sangatlah minim
  dan lapangan kerja di Indonesia dipenuhi oleh asing dan aseng
- Anak ingin diakui dan terkenal hingga memiliki para penggemar/ fans, namanya
  masuk ke Wikipedia Bahasa Indonesia, dan diundang ke stasiun TV Nasional
 seperti Zayyan Sakha, Ali Fikry Assegaf, dan Kiesha Alvaro

Sunday, 8 May 2022

PENYEBAB ORANGTUA SELALU MEMBANDINGKAN ANAK KANDUNG DENGAN ANAK ORANG LAIN, BAIK ITU ANAK DARI TEMAN SENDIRI MAUPUN ANAK DARI SAUDARA KANDUNG

 Penyebab Orangtua Selalu Membandingkan Anak Kandung dengan Anak Orang Lain,
baik itu Membandingkan Anak dari Teman Sendiri maupun Anak dari Saudara Kandung


Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman


Tanggal Pembuatan: 8 Mei 2022 18.09 WIB
Tanggal Publish Ulang: 8 Mei 2022 18.32 WIB


- Orangtua tidak yakin dengan kemampuan anaknya
- Orangtua lebih sering melarang anaknya menonton sinetron yang mendidik
- Orangtua mudah baper serta tersinggung dengan ucapan anaknya
- Anak kehilangan harga diri akibat orangtua sering membandingkan anak kandung
  dengan anak orang lain
- Anak memiliki sikap yang berubah
- Anak tidak mudah percaya dengan ucapan orangtua yang selalu meyinggung kepada
  anaknya hingga orangtua membandingkan anak kandung dengan anak orang lain
- Orangtua lebih sering meminta anaknya untuk mencontohkan orang-orang yang sukses
  dengan cara menempuh perkuliahan demi orangtua bangga dengan pencapaian anaknya
  masuk perguruan tinggi ketimbang meminta anaknya untuk mencontohkan artis-artis
  generasi penerus bangsa